Baru Ketahuan Sudah Hamil Duluan Setelah Dinikahkan

Juli 6, 2009 at 6:46 am 2 komentar

Ass.wr. wb.

Pa ustadz, kamitelah menikahkan adik ipar (laki-laki), tapi sebulan kemudian kami sekeluarga baru tahu kalo isteri adik ipar telah hamil sebelum menikah dan memang yang melakukan hal tersebut adalah adik ipar kami, sekarang usia kehamilan sudah 3 bulan.

Kami sekeluarga kaget, marah, dan malu karena merasa dibohongi. Namun apa dikata nasi sudah menjadi bubur. Sekarang perasaan saya sangat benci dan muak jika melihat mereka. Saya dan suami sudah memberi masukan pada orang tua untuk memisahkan mereka sampai melahirkan anak baru nanti dilakukan pernikahan ulang, karena pernikahan yang dilakukan pada saat mempelai perempuan dalam keadaan hamil kan tidak syah..

Jadi kalo mereka tidak dipisah kami takut karena berarti kami membiarkan mereka terus menerus berbuat maksiat. Tapi sepertinya masukan dari kami tidak didengar dan orang tua terkesan tidak tegas dan takut terhadap adik ipar kami itu.

Ustadz bagaimana sekarang kami harus bersikap seandainya orang tua tidak berhasil memisahkan mereka, berdosakah kami? Apakah keputusan kami untuk tidak mau datang ke rumah orang tua karena benci & marah bila harus bertemu adik ipar, bijaksana atau tidak?

Atau kami biarkan mereka tetap bersama dan setelah melahirkan anak baru kami adakan pernikahan ulang untuk mereka?

Terimakasih seblumnya atas jawaban ustadz.

jawaban

Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pasangan yang pernah berzina memang berdosa karena berzina. Dalam sistem hukum Islam yang tegak, mereka wajib dicambuk 100 kali cambukan dan diasingkan selama setahun.

Bahkan kalau yang berzina itu berstatus muhshan, hukumannya bukan sekedar cambuk tetapi hukuman mati, dengan cara dilempari batu hingga mati.

Sayangnya di negeri kita ini tidak berlaku hukum hudud, karena pemerintah Indonesia tidak mau menjalankan hukum yang telah Allah wajibkan itu. Jadi yang berdosa justru mereka yang jadi penguasa, baik eksekutif maupun legislatif.

Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Dizinai Sendiri

Tapi kemarahan Anda cukup sampai di sini, setelah mereka bertaubat dan meminta ampun kepada Allah, maka selesai sudah urusannya di tangan Allah. Kalau Allah SWT mengampuni, maka Dia akan mengampuni pasangan itu, sebagaimana Allah SWT mengampuni wanita yang dirajam nabi. Dan sebaliknya, kalau Allah SWT tidak mengampuninya, maka urusannya juga di tangan Allah.

Buat kita, bila pasangan yang pernah berzina itu kini telah menikah dengan benar, urusannya sudah selesai. Sebab begitu mereka menikah dengan sah, maka hubungan pernikahan di antara mereka sudah sah juga. Mereka secara hukum Islam adalah pasangan suami isteri yang sah 100%, dibenarkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.

Tidak perlu dipisah dulu, atau harus dilahirkan dulu bayinya, lalu nanti diulangi lagi nikah dari awal setelah melahirkan. Kalau pun memang ada yang berpendapat seperti ini, nampaknya ini adalah pendapat yang kurang populer di kalangan ahli ilmu.

Setidaknya jumhur fuqaha tidak sependapat untuk mengharamkan pasangan yang pernah berzina untuk menikah. Sebaliknya, justru mereka diminta untuk segera menikah secepanya. Meski si wanita sedanghamil. Bahkan meski wanita itu sudah melahirkan anak dan anak itu sudah besar.

Memang ada sebagian pendapat yang mengharamkan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri dengan berdalil kepada ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu”min. (QS. An-Nur: 3)

Namun kalau kita teliti, rupanya yang mengharamkan hanya sebagian kecil saja. Selebihnya, mayoritas para ulama membolehkan.

1. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama
Jumhurul fuqaha” (mayoritas ahli fiqih) mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini.
Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz ”hurrima” atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).
Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.
Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nur: 32).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ”anhuma. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut:

Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda, “Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal.” (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Dan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Isteriku ini seorang yang suka berzina.” Beliau menjawab, “Ceraikan dia!.” “Tapi aku takut memberatkan diriku.” “Kalau begitu mut”ahilah dia.” (HR Abu Daud dan An-Nasa”i)

Selain itu juga ada hadits berikut ini

Dimasa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, “Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), “Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik”. Lalu Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya.” (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, “Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri.”

2. Pendapat Yang Mengharamkan

Sebagian kecil ulama ada yang berpendapat untuk mengharamkan tindakan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri. Paling tidak tercatat ada Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra” dan Ibnu Mas”ud radhiyallahu ”anhum ajmain.

Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).

Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang isteri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah zahir ayat yang kami sebutkan di atas (QS. An-Nur: 3).

Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila isterinya serong dan tetap menjadikannya sebagai isteri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts.” (HR Abu Daud)

Di antara tokoh di zaman sekarang yang ikut mengharamkan adalah Syeikh Al-Utsaimin rahimahullah.

3. Pendapat Pertengahan

Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka nikahnya syah secara syar”i.

Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.

Lalu, karena penegakan syariah dan hukum hudud hanya bisa dilakukan oleh ulil amri (pemerintah) maka hukum rajam, cambuk, dan yang lain belum bisa dilakukan. Sebagai gantinya, tobat dari zina bisa dengan penyesalan, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulangi.

Dan hukum pernikahan di antara mereka sudah sah, asalkan telah terpenuhi syarat dan rukunnya. Harus ada ijab qabul yang dilakukan oleh suami dengan ayah kandung si wanita disertai keberadaan 2 orang saksi laki-laki yang akil, baligh, merdeka, dan ”adil.

Tidak Perlu Diulang

Kalau kita mengunakan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan pernikahan mereka sah, maka karena akad nikah mereka sudah sah, sebenarnya tidak ada lagi keharusan untuk mengulangi akad nikah setelah bayinya lahir. Karena pada hakikatnya pernikahan mereka sudah sah. Tidak perlu lagi ada pernikahan ulang.

Buat apa diulang kalau pernikahan mereka sudah sah. Dan sejak mereka menikah, tentunya mereka telah melakukan hubungan suami isteri secara sah. Hukumnya bukan zina.

Status Anak

Adapun masalah status anak, menurut sebagian ulama, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan pada ayahnya tanpa harus ada ikrar tersendiri.

Namun jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan, maka ayahnyadipandang perlu untuk melakukan ikrar, yaitu menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya. Itu saja bedanya.

Bila seorang wanita yang pernah berzina itu akan menikah dengan orang lain, harus dilakukan proses istibra”, yaitu menunggu kepastian apakah ada janin dalam perutnya atau tidak. Masa istibra” itu menurut para ulama adalah 6 bulan. Bila dalam masa 6 bulan itu memang bisa dipastikan tidak ada janin, baru boleh dia menikah dengan orang lain.

Sedangkan bila menikah dengan laki-laki yang menzinahinya, tidak perlu dilakukan istibra” karena kalaupun ada janin dalam perutnya, sudah bisa dipastikan bahwa janin itu anak dari orang yang menzinahinya yang kini sudah resmi menjadi suami ibunya.

Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Entry filed under: Ilmu dan Pelajaran Hidup, Pernikahan. Tags: .

Apakah niat zakat harus dilafadzkan? Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya

2 Komentar Add your own

  • 1. bilal  |  Juli 28, 2009 pukul 4:08 am

    bgs b-lognya

    Balas
    • 2. binggocorp  |  Juli 30, 2009 pukul 1:11 am

      Trims Bil.

      Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ayat Al-Qur’an

Hadits Pilihan

Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun. (HR. Tirmidzi)

Waktu

Pos-pos Terakhir

Asmaul Husna

Asmaul Husna

RSS Muslim.or.id

RSS Kisahislam.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 21,519 hits
IP

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: