Pemimpin Sejati

September 26, 2008 at 6:30 am Tinggalkan komentar

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku yang baik. Rahasia kekuatan pemimpin adalah suri tauladan. Ketika Rasul mengajak jihad, beliau itu bertempur paling depan, bersedekah paling ringan dan hidup paling bersahaja. Ketika Rasul menyuruh bertahajud, kakinya sampai bengkak karena salat. Ketika Rasul menyuruh sahum, sampai perutnya diganjal dengan batu. Ketika Rasul menyuruh orang berakhlak mulia, beliaulah yang akhlaknya paling mulia. Untuk mewujudkannya diperlukan kesadaran hati untuk melakukannya terlebih dahulu. Dalam konteks di atas, dijelaskan bahwa Rasulullah sebelum memerintahkan untuk jihad, maka dia memimpin jihad, sebelum dia memerintahkan sedekah maka dia terlebih dahulu bersedekah, sebelum dia memerintahkan salat dan puasa dia lebih dahulu melakukannya.

Dengan demikian jika suatu negara atau bangsa bahkan agama, mengharapkan masyarakat juga adanya perubahan kearah yang lebih baik, maka salah satunya pigur pemimpin yang berakhlak mulia atau yang bisa menjadi suri tauladan pada masyarakatnya. Seorang pemimpin yang dimuliakan orang lain, belum tentu hal tersebut sebagai tanda kemuliaan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dan menjadi pelayan bagi kaumnya. Demikian Sabda Nabi. Seorang pemimpin sejati, mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berpikir lebih kuat, lebih lama dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Nabi. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin suatu kaum yakni pemimpin yang melayani dengan tulus kaumnya. Inilah yang senantiasa akan bersemayam cinta di hati orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang karirnya akan selalu mulia dan terhormat adalah pemimpin yang bersyukur. Siapakah pemimpin yang bersyukur ? yakni pemimpin yang sadar bahwa kepemimpinan bukan tanda kemuliaan, tapi kepemimpinan adalah amanah dari Alloh.Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menjadikan dirinya kuburan bagi aib orang lain, bukan orang yang sering membeberkan kekurangan orang yang dipimpinnya. Semakin banyak membeberkan rahasia dan kekurangan orang lain, semakin jatuh pula kredibilitasnya. Pemimpin yang amanah bisa dilihat dari kehati-hatiannya berjanji, sedikit janjinya, tetapi selalu ditepati. Pemimpin yang amanah akan bertanggung jawab terhadap perkara sekecil apapun. Setiap berkata benar-benar tidak ada keraguan, tidak meremehkan waktu walau sedetikpun.

Seorang pemimpin yang bersyukur selalu berjuang agar dirinya menjadi suri tauladan. Seorang pemimpin yang bersyukur akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat orang yang dipimpinnya mengenal Alloh dan mengenal kebenaran. Pemimpin yang bersyukur tidak hanya sukses di kantor, tapi juga harus sukses di rumah. Tidak sedikit para pemimpin yang mampu mengatur sistem, kantor, atau perusahaan dengan baik, tetapi tidak berhasil membangun keluarganya dengan baik. Seorang pemimpin yang bersyukur akan memfasilitasi orang-orang yang dipimpinnya agar bisa hidup taat dalam kebenaran. Pemimpin sejati berkorban lahir bathin, siang dan malam untuk membuat orang yang dipimpinnya benar-benar memiliki kemuliaan dan kesejahteraan, tidak hanya untuk urusan dunia tapi juga untuk urusan akherat.Wallahu a’lam

Entry filed under: Ilmu dan Pelajaran Hidup, Kisah kisah teladan. Tags: .

Membiasakan Shalat Berjamaah Saat Bicara dan Saat Menahan Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ayat Al-Qur’an

Hadits Pilihan

Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun. (HR. Tirmidzi)

Waktu

Pos-pos Terbaru

Asmaul Husna

Asmaul Husna

RSS Muslim.or.id

RSS Al-Ikhwan.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kisahislam.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kabarislam.wordpress.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 29,270 hits
IP

%d blogger menyukai ini: