Birrul Walidain

Oktober 3, 2008 at 4:21 am Tinggalkan komentar

Judul : Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua) Pengarang : Yazid bin Abdul Qadir Jawas Penerbit : Darul Qalam – Jakarta Halaman : xvi + 124 Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas telah menuliskan sebuah buku dengan topik yang sangat perlu untuk diketahui oleh kaum muslimin, yaitu tentang berbakti kepada kedua orang tua. Buku ini menjelaskan tentang banyak hal berkaitan dengan berbakti kepada kedua orang tua. Diantaranya yang dibahas adalah, apa yang dimaksud dengan berbuat baik dan durhaka, bentuk bentuk berbuat baik dan juga bentuk bentuk perilaku durhaka kepada kedua orang tua, ganjaran yang akan diperoleh bila berbuat baik kepada kedua orang tua, dan juga ganjaran yang diperoleh bila durhaka kepada keduanya, dll. Termasuk juga batasan batasan dalam taat kepada orang tua. Berikut ini sebagian yang bisa saya kutip dari buku tersebut. Dengan meringkasnya. [PENGERTIAN BERBUAT BAIK DAN DURHAKA] ————————————- Yang dimaksud dengan ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyyah, kita wajib mentaati keduanya dalam hal hal yang mubah, harus mengikuti apa apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa apa yang dilarang. ‘Uquq secara bahasa artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). Sedangkan makna ‘uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. [AYAT AYAT YANG MEWAJIBKAN UNTUK BERBAKTI DAN MENGHARAMKAN DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA] ———————————————— QS. Al Israa’ : 23-24 “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabbku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al Israa’ : 23-24). QS. An Nisa : 36 QS. Lukman : 14-15 [BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MERUPAKANSIFAT YANG MENONJOL DARI PARA NABI] —————————————— Ust. Yazid mengangkat kisah kisah dari Al Qur’an tentang para Nabi. DiantaranyaNabi Isa bin Maryam dalam QS. Maryam 30-32Nabi Ibrahim dalam QS. Ibrahim 40-41Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam QS. Nuh 28Nabi Yahya ‘alaihissalam dalam QS. Maryam 14-15 Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dalam QS. An Naml 19 [KEUTAMAAN DAN GANJARAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA] ——————————————————– Pertama, Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Kedua, Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Ketiga, Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara ber-tawassul dengan amal shalih tersebut. (Lihat hadits riwayat Bukhari no. 2272) Keempat, Berbakti kepada kedua orang tua dapat meluaskan rizki dan memanjangkan umur. “Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986) Berkata Ust. Yazid,”Sesungguhnya Al Qur’an dan Sunnah menganjurkan kita untuk menyambung silaturahmi, dan dalam hal ini yang didahulukan adalah bersilaturahmi kepada kedua orang tua, sebelum kepada kerabat yang lainnya.” (hal. 38). Kelima, Berbakti kepada kedua orang tua dapat memasukkan seorang anak ke dalam surga. [BENTUK BENTUK BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA] ———————————————– Pertama, Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Kedua, Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Ketiga, Tawadhu (rendah diri). Keempat, Memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan… Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat kebaikan lainnya kepada orang tuanya. (hal. 62-63). Kelima, Mendoakan kedua orang tua. Ust. Yazid menjelaskan amal amal yang bisa dilakukan anak bila orang tua telah wafat antara lain:1. Mendoakannya2. Menshalatkan ketika orang tua meninggal3. Selalu memintakan ampun untuk keduanya4. Membayarkan hutang hutangnya5. Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at6. Menyambung tali silaturahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya. “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturahmi kepada teman teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal.” (HR. Muslim no. 2552) [HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA] —————————————– Diantara bentuk bentuk durhaka (uquq) adalah: 1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati. 2. Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua 3. Membentak atau menghardik orang tua 4. Melaknak dan mencaci kedua orang tua 5. Bakhil (pelit) tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan. 6. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, kolot, dll 7. Menyuruh orang tua 8. Menyebutkan kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua 9. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat musik, menghisap rokok, dll. 10. Mendahulukan taat kepada istri daripada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya, na’udzubillah. 11. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista. Sebab sebab anak durhaka kepada orang tua adalah : 1. Karena kebodohan 2. Jeleknya pendidikan orang tua dalam mendidik anak 3. Paradok, orang tua menyuruh anak berbuat baik tapi orang tua tidak berbuat 4. Bapak dan ibunya dahulu pernah durhaka kepada orang tua sehingga dibalas oleh anaknya 5. Orang tua tidak membantu anak dalam berbuat kebajikan 6. Jeleknya akhlak istri

Entry filed under: Ibadah, Pendidikan Anak. Tags: .

SEPUTAR HUKUM QURBAN / UDHHIYYAH Renungan Akhir Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ayat Al-Qur’an

Hadits Pilihan

Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun. (HR. Tirmidzi)

Waktu

Pos-pos Terbaru

Asmaul Husna

Asmaul Husna

RSS Muslim.or.id

RSS Al-Ikhwan.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kisahislam.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kabarislam.wordpress.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 29,270 hits
IP

%d blogger menyukai ini: