Pernikahan Berkah

Juli 17, 2009 at 8:14 am Tinggalkan komentar

Di
awal pernikahan, ungkapan terbaik dari suami kepada istrinya adalah
menasihati istri agar dia bisa dekat dengan Allah. Dan seharusnya
itulah yang menjadi tujuan dari pernikahan kita, yakni membawa keluarga
untuk bisa dekat kepada Allah. Selanjutnya, harus ditanamkan pula
keyakinan kepada setiap anggota keluarga bahwa setiap bertambah hari
dan bertambah umur, manusia itu akan merugi, kecuali tiga golongan.
Demikian halnya dengan keluarga, setiap waktu akan merugi, kecuali
keluarga yang setiap anggotanya memiliki kriteria sebagaimana tiga
golongan tadi.
Golongan
pertama adalah orang yang selalu berpikir keras bagaimana supaya
keyakinan dia kepada Allah meningkat. Sebab semua kebahagiaan dan
kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah.
Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar
kecuali kenal kepada Allah. Tidak ada orang yang zuhud kepada dunia
kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang yang tawadhu
kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal dengan
Allah semua dipandang kecil. Setiap hari dalam hidup kita seharusnya
dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah.

Berusahalah
agar selalu memegang komitmen tentang mau ke mana rumah tangga ini.
Mungkin sang ayah atau ibu yang meninggal lebih dulu yang penting
keluarga ini akan berkumpul di surga. Apa pun yang ada di rumah harus
menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang apa pun harus barang
yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah yang disukai Allah.

Boleh
saja mempunyai barang yang bagus, asalkan jangan sampai diwarnai dengan
rasa takabur. Bukan perkara mahal atau murah, bagus atau tidak tetapi
apakah bisa dipertanggungjawabkan di sisi Allah atau tidak. Bahkan
dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa tahu kita dipanggil Allah
ketika mendengar lagu.

Rumah
kita harus Allah oriented. Jadikan semua harta yang kita miliki menjadi
jalan dakwah. Setiap mempunyai uang, belilah buku-buku agama. Kalau
bisa, buat perpustakaan di rumah untuk tamu yang berkunjung agar mereka
dapat membaca sehingga ilmunya bertambah. Jangan rewel memikirkan
kebutuhan kita, itu semua tidak akan ke mana-mana. Allah lebih tahu
kebutuhan kita daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus dengan
desain untuk lapar. Jadi, tidak mungkin tidak diberi makan. Allah
menyuruh kita menutup aurat, sehingga tidak mungkin tidak diberi
pakaian.

Kalau
hubungan kita dengan Allah bagus, insya Allah semua akan beres. Barang
siapa yang terus dekat dengan Allah, akan diberi jalan keluar setiap
urusannya. Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak
diduga-duga. Dan barang siapa hatinya yakin Allah yang mempunyai
segalanya, maka akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia
ini yang menjadi masalah, tetapi hubungan kita dengan Allah-lah
masalahnya.

Golongan
kedua adalah rumah tangga yang akan rugi adalah rumah tangga yang
kurang amal. Jangan sibuk memikirkan apa yang kita inginkan, tetapi
pikirkan apa yang bisa kita lakukan. Pikiran kita seharusnya hanya
memikirkan dua hal, yakni bagaimana hati ini bisa bersih, tulus, dan
bening sehingga bisa melakukan apa pun dengan ikhlas.

Dan
yang kedua, teruslah tingkatkan kekuatan untuk terus berbuat. Pikiran
itu bukan mengacu pada mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang
tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan senyum, sehingga di
mana pun kita berada, kita bagaikan pancaran matahari yang menerangi
kegelapan serta menghangatkan suasana yang dingin. Sesudah itu serahkan
kepada Allah.

Oleh
karena itu, mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling
beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak produktivitas
kebaikannya. Uang yang paling berkah adalah uang yang paling tinggi
produktivitasnya, bukan senang melihat uang kita tercatat di deposito
atau tabungan. Uang sebaiknya bisa multiefek bagi pihak lain, insya
Allah hal ini menjadikan uang kita berkah.

Tentu
boleh saja kita menjadi orang kaya boleh, namun kekayaan kita harus
produktif, harus bermanfaat bagi orang lain. Boleh mempunyai rumah
banyak, asal diniatkan untuk bisa membantu saudara-saudara kita atau
yatim-piatu yang tidak memiliki rumah. Beli tanah seluas-luasnya, lalu
sebagian diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Insya Allah pahala akan
mengalir untuk kita sampai yaumil hisab. Makanya, ikhtiar mencari
rezeki bukan untuk memperkaya diri, tetapi mendistribusikannya untuk
umat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita. Jadi pikiran kita
bukan akan mendapat apa kita?

Namun,
akan berbuat apa kita? Apakah hari ini saya sudah menolong orang?
Sudahkah saya membahagiakan orang lain walaupun hanya dengan senyuman?
Berapa orang yang saya sapa? Dan seterusnya. Orang yang beruntung
adalah orang yang paling produktif kebaikannya.

Ketiga,
rumah tangga atau manusia yang beruntung itu adalah yang pikirannya
setiap hari memikirkan bagaimana ia bisa menjadi nasihat dalam
kebenaran dan kesabaran dan ia pencinta nasihat dalam kebenaran dan
kesabaran. Setiap hari carilah input nasihat ke mana-mana. Kata-kata
yang paling bagus yang kita katakan adalah meminta saran dan nasihat.
Ayah meminta nasihat kepada anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa.

Kita
harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi dan koreksi dari pihak
luar, kita tidak akan bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia
menjadi orang yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi
nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan pernah membantah,
semakin sibuk membela diri semakin jelas kelemahan kita. Alasan adalah
kelemahan kita. Cara menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan
diri. Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun.

Nikmatilah
nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Sayang hidup hanya
sekali dan sebentar hanya untuk menipu diri. Merasa keren di dunia
tetapi hina di hadapan Allah. Merasa pintar padahal bodoh dalam
pandangan Allah. Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal di atas.
Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman meningkat, setiap waktu
isi dengan menambah amal.

sumber: cyberMQ.com

Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Entry filed under: Ibadah, Pernikahan. Tags: , .

Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya Mengenal ALLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Ayat Al-Qur’an

Hadits Pilihan

Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun. (HR. Tirmidzi)

Waktu

Pos-pos Terbaru

Asmaul Husna

Asmaul Husna

RSS Al-Ikhwan.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kisahislam.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kabarislam.wordpress.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 29,216 hits
IP

%d blogger menyukai ini: