Ijinkan Kami Kembali Dengan Lebih Baik Lagi

Sebuah perjalanan yang singkat semuanya, sekian detik berjalan, berangkat dari berlapis kegelapan di dalam kandungan, berlanjut hingga bertahun-tahun. Rizqi usia yang tersia-sia, tanpa terasa entah tersisa beberapa tahun lagi sudah menunggu di depan.
Setengah usia sudah dijalani, itupun dengan seizin Allah, apabila besok sudah ditagih. ya berakhir lah semuanya, ditinggallah semua urusan, hutang dan sanak-keluarga. Dan satu hal yang pasti, dunia yang kita tinggalkan akan kembali berjalan semestinya, orang-orang mulai melupakan bahwa kita pernah hadir di dunia ini… Era kita telah berakhir, berganti masa untuk anak-anak cucu kita.
Bertubi pertanyaan muncul ; Bagaimana nasib kita? Yang pasti semuanya hanya menunggu, karena semua rahasia di dalam genggamanNya. Baik atau tidak tergantung pada amal ini. Bagaimana agar bisa selamat? Tidak ada cara terbaik selain kembali kepada Nya semasa hidup, dengan arti berjalan pada jalur yang sudah digaris pada Al-Qur’an dan Sunnah. Cukupkah modal itu saja? Wallahualam Bishowab. Yang pasti dan yang paling utama adalah terbitnya rasa Cinta yang terkira kepada yang Maha Mencipta, sehingga selalu rindu dekat padaNya dan menjadikan ibadah sebagai nafas.
Setengah usia pula sudah dijalani, sudah berapa perasaan cinta yang pernah terbit di diri ini, kepada orang tua, kekasih, suami dan istri, anak-anak, harta. Berapa bagiankah kepada Allah? Sudah cukup jujurkan cinta kita? Ketika ditanya selalu kami jawab dengan mencintaiMu, tapi jangankan mencintaimu terlalu dalam, entah berapa laranganMu kami jalani, bahkan dengan sifat-sifat Mu yang hakiki, hanya tersimpan manis di rak buku yang tersusun bersama Al-Qur’an yang berdebu

Ketika semakin banyak manusia sibuk dengan urusan dunia, mengumpulkan harta demi membangun gunung kekayaan, ketika aib orang sudah menjadi biasa, ketika hati sudah menolak segala ilmu Allah, ketika lidah sudah lupa rasa yang halal, ketika itulah qolbun maridh (sakit) menjadi qolbun mayiit, inilah yang menjadi kecemasan Rasulullah dengan meyebut kita sebagai Wahn (buih-buih dipantai) yang banyak dan tak berguna. Terlalu Hubbud Dunia (Cinta Dunia dan Takut mati).

Ya Allah, kamilah hambaMu yang jahil dan lemah, penuh dosa dan kesalahan, selalu terjebak dalam bingkai kemaksiatan tanpa disadari. Yang hanya bisa berdo’a dan meminta. Maafkan kami ya Allah, jadikan kami kaum yang bisa mengenal Mu, belajar mencintai Mu dan selalu rindu kepada Mu, hingga kami dapat kembali nanti ke kampung akhirat dengan wajah tersenyum dan tegak.
Amin, Amin ya Rabbal Alamin

5 Komentar Add your own

  • 1. abu saif  |  Oktober 22, 2008 pukul 2:15 pm

    semoga bermanfaat

    Balas
  • 2. abu saif  |  Oktober 22, 2008 pukul 2:17 pm

    jazakumullah

    Balas
  • 3. Herdian L.Tobing  |  Oktober 23, 2008 pukul 2:18 am

    Sama sama mas, semoga bermanfaat

    Balas
  • 4. muaripin  |  Februari 16, 2009 pukul 4:52 am

    semoga bermanfaat

    Balas
  • 5. ahmad kafiyanto  |  April 25, 2010 pukul 2:43 am

    semoga bermanfaat bagi semuanya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: